Menelusuri Tragedi Pembantaian Rawa Gede 1947
Hari Minggu 22 September 2019 kami menjumpai Monumen Tragedi
pembantaian Rawa gede. Didalam Monumen tersebut ada patung seorang ibu sedang
mengais anaknya yang menjadi korban pembantaian, dan terdapat pula puisi karya
Chairil anwar berjudul “Karawang Bekasi” puisi yang memberi makna bahwa sejarah
tak bisa dilupakan.
Ketika kami berjalan menuju taman makam pahlawan Sampurna Raga
terdapat 141 dari 483 korban yang dimakamkan dimakam tersebut, dimakan itu
tertulis “Esa hilang dua terbilang” dan kami mengatakan “Mati satu tumbuh
seribu”.
Ketika kami berada didalam museum kami melihat patung tentara
Belanda sambil menenteng senjata dan patung Wanita menangis sambil memeluk
keluarganya yang tertembak terbayang dibenak kami betapa kejamnya Belanda
terhadap warga Rawa gede. Didalam Museum tersebut terdapat Mading yang berisi
poto Lucas kustaryo dan bapak tua tahun 1996.
Didepan Tmp Sampurna raga ada beberapa pedagang kopi dan
makanan ringan, setelah selesai berpoto – poto kami nongkrong dan ngobrol
bersama salah satu Ibu pedagang yang usianya sekitar 40 – 50an. Kami berharap
mendapatkan banyak informasi tentang kejadian ini tapi Ibu itu malah nawarin
buku dan kaset sejarah pembantaian Rawa gede sambil bilang “biasanya ada
pemandu yang biasa bercerita” kami bilang “keluarga ibu ada korbang ga?” si Ibu
bilang “uwa jadi korban”.
Si Ibu malah cerita bahwa dulu di Rawa gede pake bahasa Jawa
tapi karena lama di Karawang jadi terbiasa pake bahasa Sunda, kami pikir
mungkin Nenek moyang warga Rawa gede itu berasal dari jawa.
Saya mau menjelaskan bahwa di Karawang ada tiga bahasa yaitu
Sunda, Jawa, dan Betawi jadi dulu saya pernah ke Cilamaya dan disana orang –
orang ngobrol pake bahasa jawa tapi mereka ngerti bahasa Sunda.
Kembali ke cerita Rawa gede, setelah kami menghabiskan hampir
sebungkus Rokok sekitar jam 11an kamipun bayar dan pamit untuk pulang,
rencananya sih mau ke makom Joko tingkir yang gak jauh dari Monumen tersebut
tapi Deri ngantuk dan ngerayu Ropiq nonton Film Karl marx dirumah Deri. Akhirnya
kami pulang ke rumah Deri lalu Ropiq malah nonton Rurouni kenshin 2 Saya dan
Deri mau tidur tapi malah disuruh oleh uwanya Deri nganterin pakean ke Rumah
sakit, setelah pulang dari rumah sakit Saya dan Deri beli ayam krispi di depan
Rumah sakit lalu makan bersama ropiq dirumah Deri gak lama sehabis makan ayam
Ropiq ditelpon ayahnya lalu Saya, dan Ropiq pulang.
Penulis
Aziz fatkhu rohman


Komentar
Posting Komentar