Gadis Jawa yang membawaku ke Djayakarta

Sudah hampir satu tahun Kami Chatingan tanpa pernah Tatap muka secara Lansung tapi Syukurlah Semesta memberi ruang untuk Kami bertemu meski tidak lama.

Kurang lebih dari Jam 21.00 hingga 22.06 Kami Jalan - jalan santai, berbincang, bahkan Nyeruput Kopi. Ah sungguh perjalanan yang melelahkan dari Karawang menuju Kota tua Jakarta tapi semua itu terbalas dengan Gemerlapnya kota Jakarta, dan Asiknya Ngobrol ngaler ngidul Bersamanya.

Saya tak peduli Peristiwa Perang Bubat yang melibatkan Suku Sunda, dan Jawa hingga membatasi Pergaulan antar dua Suku tersebut karena Saya rasa Saya memiliki Hak untuk bergaul dengan Siapapun, dan Darimanapun Asalnya.

Nah sekarang Izinkan Saya bercerita Tentangnya.

Dian Deviana Namanya, Usianya Lebih tua Satu tahun Dari Saya, dia adalah Seorang Mahasiswi Kebidanan di salah satu Perguruan Tinggi di Solo, sebenarnya dia adalah orang Sragen, dia ke Jakarta dalam rangka meramaikan Perkawinan Abangnya.

Sebetulnya Saya tidak mau terlalu cepat menyimpulkan Sikap Seseorang tapi Saya mau buat pengakuan bahwa Selama kurang lebih satu jam berbincang - bincang menurut Saya dia adalah Tipe Perempuan yang Sederhana, Lugu tapi mudah bergaul. Saya ingin bisa bertemu dengannya lagi dimanapun.

Saya mau menyisipkan Puisi yang Saya tulis tadi:
Hujan bulan Desember.

Hujan dipenghujung Bulan ini membawaku jauh ke kota tua
Menanti kehadiranmu
Aku sudah tak sabar ingin mengajakmu minum kopi, dan tertawa bersama
Percayalah akan ku ceritakan Indahnya Jakarta dimalam Hari.

Puisi

Puisi tak selalu Berirama
Penulis Puisi tak selalu Bahagia
Kadang puisiku bunyinya Resah
Tapi satu hal yang tak berubah
bahwa Puisiku adalah Kejujuran
Djayakarta, 26 - 12 - 2019

Kedua Puisi tersebut Saya Tulis dipinggir Jalan Kota tua ketika menunggu Dia.

Penulis
Aziz fatkhu rohman

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hilang dan kembali.

Pencak Silat